Sabtu, 31 Agustus 2013

Kumpulan Puisi

CATATAN SEORANG IBU 
Karya : Evi Idawati
 
Melintasi laut berjalan menyusuri 
sungai-sungai kepedian
Melewati bocah-bocah yang terkapar karena lapar
Ibu-ibu yang cemas ditenda pengungsian
Dan mayat para lelaki digotong satu persatu
Diiringi tangis dan jeritanku

Karena aku adalah istri dari lelaki yang terbunuh
Karena aku adalah ibu dari anak-anak yang bapaknya terbunuh
Dengan darahku 
Kubasuh tubuh anak-anakku yang terluka
Kulumuri mereka dengan nafasku
Agar senatiasa hidup
Ditengah kekacauan, ancaman dan penderitaan
Kutemukan anak-anakkku 
tertidur diatas tungku yang membara
Entah kapan aku bisa menyiramnya
Agar sesuatu yang lebih berarti ada
Bagiku dan untuk anak-anakku yang terluka

                                 
 
 
 
 

KETIKA BURUNG MERPATI SORE MELAYANG
Karya : Taufik Ismail
 

Langit akhlak telah roboh di atas negeri
Karena akhlak roboh, hukum tak tegak berdiri
Karena hukum tak tegak, semua jadi begini
Negeriku sesak adegan tipu-menipu
Bergerak ke kiri, dengan maling kebentur aku
Bergerak ke kanan, dengan perampok ketabrak aku
Bergerak ke belakang, dengan pencopet kesandung aku
Bergerak ke depan, dengan penipu ketanggor aku
Bergerak ke atas, di kaki pemeras tergilas aku

Kapal laut bertenggelaman, kapal udara berjatuhan
Gempa bumi, banjir, tanah longsor dan orang kelaparan
Kemarau panjang, kebakaran hutan berbulan-bulan
Jutaan hektar jadi jerebu abu-abu berkepulan
Bumiku demam berat, menggigilkan air lautan

Beribu pencari nafkah dengan kapal dipulangkan
Penyakit kelamin meruyak tak tersembuhkan
Penyakit nyamuk membunuh bagai ejekan
Berjuta belalang menyerang lahan pertanian
Bumiku demam berat, menggigilkan air lautan

Lalu berceceran darah, berkepulan asap dan berkobaran api
Empat syuhada melesat ke langit dari bumi Trisakti
Gemuruh langkah, simaklah, di seluruh negeri
Beribu bangunan roboh, dijarah dalam huru-hara ini
Dengar jeritan beratus orang berlarian dikunyah api
Mereka hangus-arang, siapa dapat mengenal lagi
Bumiku sakit berat, dengarlah angin menangis sendiri

Kukenangkan tahun ?47 lama aku jalan di Ambarawa dan Salatiga
Balik kujalani Clash I di Jawa, Clash II di Bukittinggi
Kuingat-ingat pemboman Sekutu dan Belanda seantero negeri
Seluruh korban empat tahun revolusi
Dengan Mei ?98 jauh beda, jauh kalah ngeri
Aku termangu mengenang ini
Bumiku sakit berat, dengarlah angin menangis sendiri

Ada burung merpati sore melayang
Adakah desingnya kau dengar sekarang
Ke daun telingaku, jari Tuhan memberi jentikan
Ke ulu hatiku, ngilu tertikam cobaan
Di aorta jantungku, musibah bersimbah darah
Di cabang tangkai paru-paruku, kutuk mencekik nafasku
Tapi apakah sah sudah, ini murkaMu?

Ada burung merpati sore melayang
Adakah desingnya kau dengar sekarang

 

 

 

  


Gadis Peminta-minta
Karya : Toto Sudarto Bachtiar

Setiap kita bertemu, gadis kecil berkaleng kecil
Senyummu terlalu kekal untuk kenal duka
Tengadah padaku, pada bulan merah jambu
Tapi kotaku jadi hilang, tanpa jiwa
.
Ingin aku ikut, gadis kecil berkaleng kecil
Pulang ke bawah jembatan yang melulur sosok
Hidup dari kehidupan angan-angan yang gemerlapan
Gembira dari kemayaan riang
.
Duniamu yang lebih tinggi dari menata katedral
Melintas-lintas di atas air kotor, tapi yang begitu kau hafal
Jiwa begitu murni, terlalu murni
Untuk bisa membagi dukaku
.
Kalau kau mati, gadis kecil berkaleng kecil
Bulan di atas itu, tak ada yang punya
Dan kotaku, ah kotaku
Hidupnya tak lagi punya tanda



Tiga Tangga Sama, Kau Daki Berulang Kali

Karya : Taufik Ismail 

I
Di tahun empat lima ketika situasi berbalik kilat Setelah berpuluh tahun orang menunggu Ketika akhirnya jadi proklamasi dibacakan Perubahan secepat telapak tangan dibalikkan Tiba-tiba banyak saja orasi berapi-api Pidato patriotik berhamburan kosong Cuma sedikit dalam catatan yang berisi Pasukan Jepang ditelikung, senjata dilucuti Inggeris dan Belanda dilawan dengan revolusi
Di kawasan kumuh dan pedesaan, rakyat susah makan Begitu sabarnya, tanpa suara, mereka menantikan Dan akan terus kalian atas namakan
II
Di tahun enam enam ketika situasi berbalik berkelebat Setelah bertahun-tahun orang menunggu Pembunuhan kiri-kanan berlangsung mengerikan Perubahan secepat telapak tangan dibalikkan Tiba-tiba banyak saja orasi berapi-api Menyalahkan sana, membenarkan sini Pidato-pidato patriotik kosong berhamburan Cuma sedikit yang berisi, yang pantas didengarkan Orang-orang berebutan dan membagi-bagi kekauasaan
Di kawan kumuh dan pedesaan, rakyat makin susah makan Begitu sabarnya, tak bersuara, mereka selalu menantikan Dan bukankah mereka akan terus kalian atas namakan

III
Di tahun sembilan delapan, seperti geledek bersambaran Ketika situasi tiba-tiba berjalan balik-kanan Setelah empat windu orang pegal menunggu Beberapa detik perubahan mirip telapak tangan dibalikkan Tiba-tiba banyak betul orang entah dari mana orasi berapi-api Menuduh menyalahkan sana, menyombong membenarkan sini Merasa hebat, pintar dan benar sendiri Pidato-pidato patriotik begitu bising, hampa dan berserakan Cuma sedikit dapat dicatat yang agak berisi Saksikan adegan penculikan dan penembakan Luar biasa terjadi penjarahan dan pembakaran 100 juta orang jatuh miskin dan dihimpit pengangguran
Di kawan kumuh dan pedesaan, rakyat makin susah makan Begitu sabarnya, tak bersuara, mereka selalu menantikan Dan bukankah mereka akan terus kalian atas namakan.

NASKAH MONOLOG


Ini naskah monolog pertama yang saya mainkan when I was in semester 4 in Universitas Negeri Gorontalo. waktu itu K noe (Anak Sendratasik semester 6) meminta saya untuk menjadi aktornya karena pada waktu itu dia harus mencari orang yang akan menjadi aktornya pada mata kuliah penyutradaraan. Dengan sedikit keraguan saya menerima permintaannya karna saya belum pernah main monolog sebelumnya. Tapi k noe menguatkan saya dan meyakinkan bahwa saya bisa dan saya adalah orang yang tepat untuk menjadi aktornya. yahhh... Bismillah...
dengan latihan yang cukup ketat selama 2 minggu, saya tampil dengan kesehatan yang menurun. suara saya mendadak paraw, gugup yg super duper waww.
tapi alhamdulillahirabbilalamin semua berjalan dengan sempurna. k noe lulus mata kuliah penyutradaraan dan mendapat predikat A. hmm.. Alhamdulillah. bahkan dosen yg juga menjabat sebagai PD 3 Sendratasik itu meminta saya untuk pindah ke fakultas mereka karna saya pada saat itu adalah seorang mahasiswi Fakultas Teknik Jurusan Informatika. hmm.. galau meeeennn.. :D yahh.. gk usah panjang lebar, nihh coba baca dan practice sendiri ajha.. naskah ini bagus banget. Recomended dehhhh.. Cekidot.. :D

SANG ORATOR
Oleh: Bayan Sentanu

(level tingkat dua di tengah panggung, muncul pemain berpakaian tidur (piyama). Usianya 30 tahun, ia menyeret sebuah megaphone menyala (sirine). Pemain mengelilingi level setengah lingkaran untuk kemudian naik ke atasnya dan mulai berorasi.)

SAUDARA-SAUDARI, SENASIB SEPENANGGUNGAN. ADALAH HAK MANUSIA, HAK RAKYAT BANGSA INI MENDAPATKAN KESEJAHTERAAN HIDUP! JUGA KITA, KAUM BURUH! BERTAHUN-TAHUN KITA MEMERAS KERINGAT, MELAKUKAN KEWAJIBAN KITA SEBAGAI PEKERJA DI PABRIK INI! TAPI APA YANG KITA DAPAT?!! UPAH YANG TAK LAYAK! EKSPLOITASI
TEBAGA DAN JAM KERJA! TAK ADA JAMINAN KESEHATAN DAN KESELAMATAN KERJA! BANYAK TEMAN KERJA KITA YANG DILECEHKAN SECARA SEKSUAL! PEMECATAN SEPIHAK!
TERLALU LAMA KITA DIAM! TERLALU LAMA KITA DIHANTUI RASA TAKUT! KITA HARUS BERGERAK! MELAWAN PENINDASAN ITU SEMUA! DENGAN TANGAN KITA SENDIRI! SEKARANG, HANYA SATU KATA; LAWAN!* HIDUP BURUH! HIDUP BURUH!....

Ha...ha...ha.... begitu semangatnya aku waktu itu. Aku seperti singa yang mengaum diantara ribuan penghuni hutan. Semua mata tertuju padaku, mereka diam. Entah karena isi orasiku atau karena kalimat-kalimat itu keluar dari mulut perempuan yang selama ini terkesan pendiam. Aku tak peduli! Yang pasti, waktu itu aku hanya menyuarakan apa yang kurasakan selama di pabrik itu.

Merekapun bertepuk tangan sesudah orasiku itu. Lima menit, ya lima menit. Seperti penghargaan penonton atas sebuah pertunjukan teater yang memuaskan. Yel-yel yang aku berikan, mereka sambut membuat gema yang riuhnya mengalahkan deru mobil di jalan raya.

Aku, Sunarti. Sang orator.

(lampu redup-mati, erdengar alunan musik yang menghentak. Di belakang lampu menyala dan pemain sudah ada disana.)

Bagi rekan kerjaku sesama operator, aku mungkin dianggap pahlawan karena telah mewakili mereka yang tak berani bicara, mewakili mereka yang hanya bisa keluh kesah di belakang. Yang bisanya hanya corat-coret di dinding toilet dengan spidol atau lipstick, berisi umpatan-umpatan pada atasan.

-          Wahai manajer tampan; pergilah ke neraka!-
-          Kepada supervisor cabul; jadi dukun aja lu!-

Begitulah jadinya kalau hidup ditekan tapi tak dilampiaskan secara benar.

Sejak demonstrasi itu, hidupku berubah, aku semakin berani membela rekan-rekan kerjaku di depan atasan. Walau aku bukanlah pengurus serikat pekerja. Pernah satu kali Mugiyem mengadu padaku perihal ia dijatuhi SP 1 karena tidak masuk kerja, alias mangkir. Padahal dia sudah memberi alasan bahwa dia tidak masuk kerja karena menstruasi, itupun sudah disertai surat keterangan istirahat dari dokter. Tapi mereka tak menerima alasan itu. Bahkan Giyem dituduh, menstruasinya adalah rekayasa dia untuk tidak masuk kerja.

Jelas aku marah. Kutinggalkan kerjaanku lantas kulabrak supervisor edan itu.

Apa betul ibu meng-SP Giyem? Atas dasar apa? Bukankah ia sudah menyerahkan surat keterangan dokter?

Kami tetap tak bisa menerima surat itu. Kamu harus tahu, pabrik ini sedang banyak order dan kita dikejar target. Kau tahu berapa kerugian perusahaan kalau seorang saja bolos kerja? Kami meng-SP Giyem sebagai pelajaran buat semua karyawan.

Pelajaran katanya, pelajaran yang mana dan siapa gurunya yang menjelaskan perempuan tak boleh menstruasi kalau lagi banyak order? Aku pikir pelacur sekalipun akan istirahat dari melacurnya kalau lagi datang bulan.

Lantas kukatakan perihal proses biologis menstruasi, kujelaskan pula soal hubungan industrial antara buruh dan majikan. Saat itulah mukanya memerah, lalu ia menyuruhku keluar. Tapi aku bergeming dan terus melontarkan pikiran-pikiran sosialisku. Hingga akhirnya ia menamparku di pipi ini. –kau telah berani menentang atasanmu!-

Eh, jangan anggap karena aku wanita, lantas dapat perlakuan seperti itu akan menangis. Menangis, sebuah kata yang sudah kuhapus dari kamus besar hidupku. Tamparan perawan tua itu selayaknya minyak tanah yang disemburkan dan memperbesar api dalam dadaku. Kutampar ia, kujambak rambutnya dan kujedotkan jidatnya ke meja kerjanya. –itu pelajaran buatmu perawan tua!-

Tebakan jitu!. Aku memang di PHK sesudah peristiwa itu. Tapi aku tidak menyesal, setidaknya teman-teman kerjaku sadar bahwa mereka, walaupun butuh uang bukan berarti harus melacurkan kemanusiawian. Buktinya mereka berani menggelar demonstrasi-demonstrasi menyangkut hak mereka.

Kenapa bertanya tentang suamiku? Ia baik-baik saja. Kalau kalian berfikir rumah tangga kami berantakan sesudah kejadian itu, kalian salah. Justru yang mendorong keberanianku adalah Mas Naryo, suamiku. Kini ia memburuh di pabrik sepatu, di tempat kerjanya ia dikenal dengan julukan “Si Petir”.

Sudah tujuh pabrik ia jajaki. Dan semuanya hampir sama permasalahannya. Berkutat di soal upahlah, tunjanganlah, cutilah, uang makanlah dan segala tetek bengek perburuhan. Dia selalu dipercaya rekan kerjanya sebagai penyalur aspirasi mereka. Dan suamiku yang sudah melalap paham Karl Mark, selalu menggebu-gebu mengangkat semua masalah itu ke permukaan.

Mas Naryo tidak pernah mau jadi pengurus serikat pekerja, camkan itu! Baginya serikat pekerja sudah bukan lagi DPRnya para buruh, melainkan jadi organisasi penjilat bokong atasan agar mudah dapat jabatan. Ya, memang tidak semuanya seperti itu. Tapi kan diatas rata-rata. Kebijakan yang seharusnya memperbaiki hidup buruh dikorbankan untuk keuntungan pribadi.

Aku jadi ingat, ketika ia pertama kali bekerja di pabrik garmen, saking jengkelnya pihak perusahaan pada tingkah Mas Naryo yang sulit dikendalikan, segala macam cara mereka tempuh. Agar ia diam! Itu intinya. Pernah sesudah sebuah demonstrasi ia ditawari menjadi grup leader atawa mandor di bagiannya. Terang Mas Naryo menolak, karena bukan itu yang diinginkannya. Sebab itu pihak manajemen mencari jalan lain. Mem-PHKnya dengan sedikit pesangon.

Maka disusunlah sebuah skenario yang melibatkan karyawan lain bagian. Hari itu Mas Naryo kehujanan sewaktu berangkat kerja, sudah pasti seragam dan sepatunya basah. Maka pergilah ia ke loker dan mencopot sepatunya untuk dikeringkan. Lantas ia memakai sandal, entah punya siapa. Ia pun beranjak ke bagiannya.

Tak ada masalah awalnya, sampai tengah hari. Tiba-tiba ia dipanggil ke kantor dan disuruh menghadap personalia. Walah dalah, Mas Naryo dituduh mencuri sandal temannya di loker. Mas Naryo tidak terima tuduhan itu lantas ia minta bukti.

Maka dipanggilah Sugondo, ia mengaku bahwa ia melaporkan kehilangan sandal di loker, dan ketika ia melihat sandal itu dipakai Mas Naryo, ia melaporkannya. Mereka tak menerima alasan yang diberikan suamiku. Perdebatan sengit pun tak terelakkan. Alhasil ia di SP 3 dan dirumahkan sampai pemberitahuan selanjutnya.

Welah dalah. Dalam kasus ini pun serikat pekerja juga telah ikut permainan, terbukti pembelaan yang mereka berikan hanya formalitas biasa dan diakhiri dengan kalimat -maaf kami tidak bisa bantu lebih jauh lagi. Kasusmu berat.- disitulah awal Mas Naryo patah arang pada yang bernama serikat pekerja.

Lha kok bicarain soal suamiku sih? aku disini kan hendak menceritakan pengalamanku di pabrik sebagai orator ulung. Yo wis tak lanjutke yo...

Lima belas tahun aku bekerja di tiga buah pabrik, ya agak jauh dari garmen, sepatu dan tekstil. Kesejahteraan buruh di bidang itu selalu memprihatinkan, terlebih karena mayoritas pekerjanya adalah kaum perempuan dan majikannya adalah orang Asia juga.
Akh... lupakanlah. Miris aku mengenang semua itu.

Komunitas warga pinggir kota! Diketuai oleh Mas Naryo, aku membantunya dengan menjadi wakil. Tugasku lebih ke lapangan, berhubungan dengan elemen-elemen masyarakat bawah. Membangun kekuatan massa! Itulah kerjaanku. Mas Naryo sendiri lebih kepada membangun jaringan di atas, mencari celah yang bisa dimasuki secara finansial. Kami memiliki prinsip kerja; siapa yang bisa bayar kami lebih banyak, maka kami berikan kekuatan massa yang dibutuhkan.

Sst... ini rahasia. Jangan bilang siapa-siapa. Kami tengah menyiapkan sebuah aksi besar soal kebijakan pemerintah yang merugikan rakyat. Ada yang mau ikut? Setiap kepala kami hargai seratus ribu. Dana darimana? Tak usahlah tahu kalau dana itu kami dapatkan dari rival politik pemerintahan sekarang.

Dan aku sudah menyiapkan orasi yang aku pikir lebih dahsyat daripada janji-janji partai waktu pemilu kemarin.

Seperti ini:

SAUDARA-SAUDARA SEBANGSA SETANAH AIR, SEJAK REFORMASI DULU KITA SUDAH SEPAKAT BAHWA KORUPSI, KOLUSI DAN NEPOTISME HARUS DIBERANTAS. TAPI APA KENYATAANNYA! MASIH SAJA SEMUA ITU TERJADI. BAHKAN DI LEMBAGA HUKUM TERTINGGI BANGSA INI, YANG MENGURUS PEMBERANTASAN KORUPSI MALAH TERIMA SUAP! MAU JADI APA NEGERI INI! SUDAH JELAS, INI BUKTI DARI KETIDAKBECUSAN PEMERINTAH SEKARANG! HANYA SATU SOLUSI, GANTI PEMIMPINNYA! GANTI KABINETNYA! SEKARANG!

(pemain menyanyikan lagu Maju Tak Gentar. Diakhir lirik, lampu meredup dan mati.)




SELESAI